Membaca Bersama

Membaca Bersama 2

Kami punya (lumayan) banyak koleksi buku. Hasil gabungan koleksi saya dan koleksi dia. Setelah sekian lama memiliki buku-buku tersebut, saya baru menyadari bahwa saya menikmati sekali kegiatan membaca bersamanya.

Kami membaca buku yang berbeda, menekuni pokok-pokok pikiran masing-masing penulis bersama-sama, tertarik pada hal yang berbeda di saat yang sama. Kegiatan ini menjadi menyenangkan saat kami saling bercerita.

Salah satu berhenti sejenak untuk melihat mata lawan bicaranya berbinar, ketika menceritakan hal yang menurutnya menarik di saat itu. Lalu kembali hanyut terbawa deretan kata di buku masing-masing.

Menyenangkan sekali.

Kamu

Jakarta Selatan, 21 Februari 2015.

(Seusai bertemu keponakan-keponakan lucu yang lebih memilih berlari dan memeluk saya daripada dirinya)

Iklan

Survival Of The Flexible-est (The Story Behind “Beatbox Kecak Documentary”)

Walter Spies : eh sob, ritual tarian Sanghyang lo keren juga tuh..

Masyarakat Bali : eh, emang iya ya? Bagus deh kalau menurut lo keren.

Walter Spies : btw, boleh gue modif ga ritualnya?

Masyarakat Bali : emang mau lo apain?

Walter Spies : bagian tarian monyetnya keren banget. Ntar gue bikin jadi full performance perkusi mulutnya. Bakal pecah banget soob!!!

Masyarakat Bali : ooh gitu, cakep say, lanjut!.. *trus ngadu ayam

***

Itu kira-kira percakapan antara Walter Spies dan masyarakat Bali pada tahun 1930-an yang gue bayangkan. Waktu itu walter Spies, seorang pelukis dari Jerman, datang ke Bali dan melihat ritual tarian Sanghyang, kemudian ia berpikir untuk melepaskan bagian monkey dancenya untuk dijadikan satu tarian tersendiri. Voila! Terjadilah tarian kecak yang lo dan turis2 asing bisa nikmati sampai sekarang.

Kecak-dance-at-Uluwatu

Kesan gue tentang hal ini adalah, betapa openminded-nya orang bali. Masyarakat Bali nggak berprasangka buruk terhadap perubahan yang ditawarkan orang luar. Nggak heran seni budaya mereka masih berkembang terus sampai sekarang, bahkan ke generasi mudanya.

“Mereka (masyarakat Bali) membiarkan generasi muda

untuk menyentuhkan tangan mereka pada kesenian Bali” ~I Wayan Dibia.

Gue dapet informasi itu dari obrolan gue dengan Pak Dibia, seorang seniman Bali.  Gue ketemu beliau beberapa waktu lalu, ketika itu gue dapet undian berhadiah trip ke Bali. Nama lengkap beliau : Prof. DR. I Wayan Dibia, SST., MA.(agak penuh ya kartu namanya :p). Beliau adalah guru besar Sekolah Tinggi Seni Denpasar. Pak Dibia dikenal karena produktif menghasilkan karya-karya tari, terutama tari kecak. Beliau juga aktif mempertunjukkan kesenian Bali di penjuru dunia.

I-Wayan-Dibia

Pernyataan itu bikin gue teringat pada banyak kesenian asli Indonesia yang terancam hilang. Kondisi rawan ini biasanya disebabkan karena kesenian-kesenian tersebut hanya boleh dipertunjukkan oleh orang-orang tertentu. Beberapa kesenian malah hanya boleh dimainkan oleh orang tertentu dan keturunannya saja. Keterbatasan-keterbatasan ini membuat sebagian kesenian tersebut rawan punah. Rawannya kondisi sebagian kesenian khas Indonesia ini, membuat beberapa pihak merasa terpanggil untuk melestarikannya.

Gelar” adalah salah satunya, perusahaan ini bergerak dalam bidang pelestarian, promosi, serta pengembangan aset seni dan budaya Indonesia. Salah satu cara yang dilakukan Gelar adalah dengan menyelenggarakan Cultural Trip . Perjalanan-perjalanan yang diselenggarakan oleh Gelar memiliki tema-tema budaya yang kental.

The-group-lead-by-Gelar

Pertemuan gue dengan Pak Dibia juga difasilitasi oleh Gelar, dalam sebuah perjalanan dengan tema Mahakarya Indonesia. Kita diajak ngobrol dengan beberapa orang seniman Bali tentang apa makna Mahakarya Indonesia.  Hasil dari pertemuan dengan Pak Dibia, adalah gue jadi bisa bantuin temen gue yang lagi bikin film dokumenter pendek tentang kolaborasi kecak dan beatbox. Semangat kolaborasi yang dimiliki Pak Dibia membuat gue nggak ragu buat ngajak beliau ikut serta, dan tanggapannya sesuai dengan harapan. Beliau dengan senang hati mendukung proyek beatbox-kecak ini. Buat yang penasaran (siapa tahu ada yang penasaran), Project ini masih on going, jadi tunggu tanggal mainnya 😀

Indobeatbox-with-Pak-Dibia

Keberhasilan masyarakat Bali dalam menjaga seni dan budayanya membuat pariwisata Bali semakin kinclong di dunia internasional. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah pola pikir yang terbuka ini bisa ditularkan ke masyarakat lain di Indonesia? Menurut saya sudah saatnya masyarakat Indonesia mengubah pola pikir dalam melestarikan adat dan budayanya, bukan lagi meletakkan seni dan budaya di dalam kotak kaca, tapi memberikannnya pada setiap orang, agar tiap orang berperan dalam pelestariannya.

gamelan-lesson-from-the-late-Kadek-Suardana-for-the-young

*versi bahasa inggris tulisan ini pernah dimuat di indohoy.com

good friends, great gig and grouchy weather

ketika pekerjaan padat dan semangat hidup sedang mendayu…

ketika tenggat waktu memburu dan semangat sedang menunduk sayu….

saat itulah saya membutuhkan teman-teman terdekat untuk bergurau…

bertindak bodoh di muka umum tanpa kenal apa itu rasa malu…

Jumat, 7 Desember 2012 [senayan, sudirman, kemang, senayan]

DSC00099

hari ini saya bangun terlampau pagi, memang kurang baik untuk tubuh saya yang biasa memulai hari di saat brunch.

padatnya tenggat pekerjaan dan sederet remeh temeh kantor membuat tubuh saya tidak beroperasi maksimal.

hari baru dimulai ketika malam menjelang…

IMG_20121030_184201

intimate gig, wonderful setlist, jam session with thick chemistry, sesi obrol sampah, hujan deras menguyupkan badan dan pakaian… ditutup dengan semangkuk mie instan hangat.

IMG_20121207_212347 IMG_20121207_214650 IMG_20121207_230642



this fuckaz… made my day 🙂

DSC00008

DSC00140

Mengalami atmosfer kelam, suram nan megah ala Islandia (Sigurros concert, 23 November 2012)

Perkenalan gue sama band Islandia ini dimulai sekitar tahun 2005-an, waktu itu gue sama temen-temen gue lagi giat-giatnya dengerin Mew. Kita nyimak banget beberapa album awal Mew sampai tiba album The Glass Handed Kite. Respons awal waktu denger album baru ini, “kok aneh gini ya soundnya?, ngawang parah dan strukturnya nggak baku… musik apa iniii???!!!” *galigali tanah

Sebagai orang berpendidikan kami pun mencari tahu, apa yang terjadi dengan band kesayangan kami tersebut. Ternyata mereka (katanya) terpengaruh sama band dari Islandia bernama Sigur Ros, “Band apa pulak itu Sigur Ros?!” ujar kami. Tak lama kami pun terseret dalam pusaran atmosfer kelam-suram-namun-megah ala Islandia. Sebagai anak kos berkantung kempes kami berangan-angan, kapaaaan bisa nonton Sigur Ros manggung live.. pasti dahsyat sekali.

Salah satu temen gue @bjobotnik sudah “naik haji” duluan, dia dengan suksesnya nonton Sigur Ros live di amewika. Gue dan teman-teman yang lain sontak sirik berjamaah. Gimana nggak?!…. waktu zaman ngekos kita kelaperan bareng-bareng, ngutang rokok bareng-bareng, ditagih uang kosan bareng-bareng, “wisata astral” bareng-bareng… kok ya nonton Sigur Rosnya nggak bareng?! *sewot

Tujuh tahun kemudian gue denger kabar baik di dunia maya, Sigur Ros mau ke Singapuraaa!!!! Biar rada nyebrang dikit gue jabanin dah!!! Gue langsung cari info sana-sini, googlang-googling, banding-bandingin… akhirnya nemu tawaran paket “wisata haji” yang harganya masuk akal (dan masuk kantong), The Bastard Adventure. Sebagai karyawan swasta berpenghasilan seadanya gue ngerasa kebantu banget dengan kredit konser yang ditawarkan, bisa bayar dua kali a.k.a. dicicil!!!

Setelah ngatur kerjaan biar bisa ditinggal akhirnya gue berangkat ke negeri tetangga buat “naik Haji”

Gue suka ikutan “Blind Trip” kayak gini karena gue berkesempatan buat ketemu orang-orang baru di luar lingkaran pergaulan gue. Rombongan gue menyenangkan euy, macem-macem banget orangnya, ada music composer, ada motion artist, ada yang kerja di majalah, sampe dosen dan mahasiswa.

Pas hari – H Singapura ujan gede…banget… kalau kata temen gue yang orang situ emang lagi musimnya ujan badai kayak gitu, untung gue udah persiapan bawa wind breaker, sendal pewe, rain cover sampe jas ujan…

Pas sampai di Venue ujan udah reda, tinggal rumput basah aja yang bikin rada nggak nyaman… tapi persetan lah, Sigur Ros euy!

Pada awalnya penonton pada duduk-duduk santai di depan panggung, nungguin rombongan Jonsi dkk. Penonton pada make kantong sampah sama jas ujan buat ngelindungin pantat mereka dari lembabnya rumput basah. Gue udah berharap kita bisa nonton-nonton cantik kayak film Heima nya Sigur Ros, tapi dasar penonton melayu suka ga tahan liat artesyh ya jadi pada bediri juga…. ya udah pasrah lah, gue ikutan berdiri juga. Padahal kita udah teriak-teriak “SIT DOWN…SIT DOWN!!!” (diteriakkan dengan nada “Wasit Goblog”), well.. manusia cuma bisa berupaya, tuhan berkehendak lain. “Saya berkehendak kalian nonton Sigur Ros sambil berdiri”, kata tuhan. “Sok weee ateuuhh”, kata saya ke tuhan.

Lalu Fort Canning mulai riuh ketika rombongan tanjidor Islandia muncul… and let there be music…

 

Sigur Ros main sebagaimana diharapkan, kombinasi mematikan dari bunyi alat musik, lengkingan vokal Jonsi, dan visual yang luar biasa… dan sedikit sekali interaksi dengan penonton.. as expected.

 

Hujan deres (banget) turun di beberapa lagu terakhir, tapi penonton tetap bergeming. Bersenjatakan payung, jas hujan, plastik sampah atau  alat berlindung seadanya mereka keukeuh nongkrong di depan panggung. Gue sih udah melipir ke belakang, nyari tempat berteduh.


Singkat cerita konser pun berakhir, muka-muka sumringah setengah nggak percaya bertebaran di sono-sini. Lengkap dengan acara foto-foto bareng temen-temen berlatar panggung yang udah kosong. Gue? nggak ah, nggak perlu foto diri sendiri kok buat memento pernah nonton Sigur Ros live. 🙂

 

Overall perjalanan kali ini oke, tapi some how gue ngerasa udah nggak begitu nendang nonton Sigur Ros live. Entah udah kelamaan nunggu mereka main live, atau emang gue udah nggak se excited itu lagi sama Sigur Ros. Beda banget waktu gue nonton Mew di Java Rocking Land 2009, waktu itu suara gue serak karena sing-a-long dan mata berkaca-kaca terharu.

Well, bukan berarti trip ini nggak seru ya, I’ll write the other part later…  tapi ntar aja ya gue tulisnya…. udah malem… kantor udah sepi.. mau pulang… rumah jauh… di Bekasi… 😀

 

so.. see you when i see you!

when your projects start to appear in your dream…that’s when you need to take a break.

pekerjaan gue lagi bejjibun-bejibunnya…

udah sebulan lebih nggak bisa pulang…

mulai dari pertengahan oktober sampe pertengahan november…

baluran, ijen, ambon, bali, kendari…. there’s such thing as too much traveling…

konsekuensi dari kebanyakan business trip adalah banyaknya Pe Er yang harus dilakukan ketika sampai di Jakarta…

seperti travel blogger tapi dengan menu Pe Er lebih banyak… nulis naskah, bikin laporan pertanggungjawaban, arrange tim post-pro, ngurusin payment buat kru yang ikut jalan, ikutan ngedit, present hasil ke klien, revisi, ditagih sama kru post-pro, adu betot sama orang finance..dll..dll..dll..

sangking bejibunnya, kerjaan gue sampe kebawa mimpi…

salah satu project yang lagi gue garap kali ini terkait dengan pembangunan pasca konflik di Maluku…

kemarin malam gue tidur, gue udah lama nggak inget sama apa yang gue mimpiin, tappi yang kali ini jelas banget… bahkan sampai bersambung (ke bangun terus mimpi lagi dengan tema sejenis)…

and how do these projects intruded my dreamscape?

greet morpheus in three… two…. zzz….

——————————————————————————————–

Act #1

Location : some in-the-middle-of-nowhere village with moslem majority

gue lagi ngambil gambar sama temen gue @ottoferdinand_s , tiba-tiba ada kasak-kusuk nggak jelas di antara warga desa. Tiba-tiba kampung jadi rame dan atmosphere-nya  nggak bersahabat, si Otto tiba-tiba ngilang…

muncul beberapa orang bersorban/janggut/celana cingkrang membawa parang panjang, mereka ngider-ngider kampung kayak lagi sweeping. Gue jadi parno, takut terjadi apa-apa sama si Otto. Pelan-pelan gue melipir buat nyari si Otto, nyelusup-nyelusup di antara rumah-rumah kayu, keluar masuk dapur, nyelip di celah antara rumah. Ternyata rombongan orang-orang berjanggut itu nyariin gue juga, tambah parno lah gue.

yang ada di pikiran gue saat itu adalah gimana gue berada di ‘perbatasan’. Gue berasa aman karena sesama muslim tapi karena jalan sama temen yang beda agama, gue ngeri dianggep ‘orang luar’.

adegan menegang ketika mereka nyaris menemukan gue, waktu itu gue lagi ngumpet bergulung-gulung dalam sebuah jala besar yang teronggok di pojok halaman sebuah rumah… Gue terbangun….fyuuhh…

ketika terbangun gue langsung keinget sama si pacar yang lagi nge-trip ke Kalimantan, kenapa gue teringat si pacar? karena “ketika terjadi konflik, perempuan adalah pihak yang paling menerima dampaknya“. Kutipan itu adalah salah satu hasil wawancara gue di Ambon. That thought scares me a lot.

setelah nge-sms si pacar gue berusaha ngelanjutin tidur lagi…. zzzz…

—————————————————————————————

Act#2

Location : Keraton Mangkunegaran Solo

somehow gue lagi ada di keraton Mangkunegaran Solo…

dalam mimpi gue, keraton Mangkunegaran terlihat Hogwart-ish. Lengkap dengan naga-naga kecil yang glow in the dark, rusa-rusa berwarna biru metalik kayak suku N’avi nya avatar. Di salah satu pojok halaman keraton gue ngelihat ada sebuah pohon beringin yang berperilaku kayak Dedalu Perkasa. *am I on acid or sumthin?

Gue duduk menikmati pemandangan sureal di tepi jendela. Di kejauhan gue ngelihat serombongan  orang-orang berpakaian putih lengkap dengan janggut dan parang panjang… lagi-lagi… *sigh

mereka berusaha masuk ke area keraton sambil nebas-nebasin mahkluk-mahkluk lucu yang mereka lewati.. poor creatures.. 😥

para penghuni keraton berusaha melarikan diri ke secret hiding place mereka, gue ikutan. Dalam upaya pelarian, gue ngeliat di jendela rombongan berpakaian putih itu membantai setiap orang yang mereka temui di jalan… this shit escalates quickly.

setelah melewati beberapa pintu rahasia akhirnya gue sampai di sebuah secret hiding place bersama salah seorang keluarga keraton. Tempat itu berada di salah satu bangunan tinggi dalam komplek keraton, di mana kita bisa melihat lapangan besar. “Di lapangan itu dulu Jokowi dilantik jadi Walikota Mas“, kata si keluarga keraton… informasi nggak penting di tengah kondisi genting.

Source

Dari atas gue ngeliat orang-orang berbaju putih menggiring para calon korbannya ke tengah lapangan…

gue meleng sebentar berusaha melihat si beringin-Dedalu-Perkasa, ketika ngeliat lagi ke lapangan para korban sudah tewas berdarah-darah…

Lapangan tempat pelantikan Jokowi pun beralih warna, hijau-putih-merah-kelabu…

gue terbangun…

sambil berpikir.. what the fuck was happened!?

———————————————————————————-

begitu terbangun gue langsung berusaha mengingat apa saja elemen yang membentuk mimpi-mimpi tersebut? peristiwa atau informasi apa yang menjadi kepingan puzzle dalam membentuk bangunan mimpi berseri tersebut.

and these are the puzzle pieces…

  • ketika shooting di Seram gue sama tim nyaris terjebak konflik antar kampung, sebuah desa muslim menyerang desa kristen yang akan kita datengin. Alhamdulillah kita nyasar, jadi ketika sampai di desa tujuan konfliknya sudah mereda. Gue parno banget karena tim kita terdiri dari 3 muslim dan dua orang kristen, nggak lucu kan kalau 2/5 atau 3/5 anggota tim jadi korban karena berada di tempat yang salah.
  • Sholat di Masjid Kampung Nania, Ambon.. berimamkan seorang anggota Laskar Jihad yang memutuskan untuk tetap tinggal untuk menjaga kampung.
  • eksposure media terhadap kinerja Ahok yang “ngebantai” Departemen PU.
  • Perkampungan suku Bajo di pesisir Soropia Kendari. Sebagai masyarakat laut mereka memiliki banyak jala tersebar di setiap penjuru kampung.

when your projects start to appear in your dream…that’s when you need to take a break.

Sigur Ros concert next friday will be my break… 🙂

#NowPlaying Godan Daginn (good day) – Sigur Ros

Cla-SHIT-fication

The word is likely derived from Old English, having the nouns scite (dung, attested only in place names) and scitte (diarrhoea), and the verb scītan (to defecate, attested only in bescītan, to cover with excrement); eventually it morphed into Middle English schītte (excrement), schyt (diarrhoea) and shiten (to defecate), and it is virtually certain that it was used in some form by preliterate Germanic tribes at the time of the Roman Empire. The word may be further traced to Proto-Germanic *skit-, and ultimately to Proto-Indo-European *skheid-. The word has several cognates in modern Germanic languages, such as German Scheisse, Dutch schijt, Swedish skit, Icelandic skítur, Norwegian skitt etc. Ancient Greek had ‘skor’ (gen. ‘skatos’ hence ‘scato-‘), from Proto-Indo-European *sker-, which is likely unrelated.[1][2]
(source http://en.wikipedia.org/wiki/Shit)

as you all know, Shittin’ and get in to shit is my expertise…
a friend of mine told me that there are many kind of shit in this shitty world…
and now i’m gonna try to explain each and every kind of shit that i know….

hope you’ll like it….
enjoy!

TAI LEDIG
adalah tai yang masih hangat, bertekstur lembek, berwarna kuning muda, bentuknya agak pipih melebar karena keinjek, dan volumenya relatif lebih besar dari tai – tai lainnya…

TAI LANCUNG (also known as TAHI LANTJOENK)
kandungan air sudah agak berkurang jadi bertekstur agak kering, warna kuning tua karena hampir busuk, volume relatif lebih sedikit daripada TAI LEDIG, bentuk agak mencar tapi meruncing dibagian ujung….

TAI LA’OM
sifat umumnya mirip dengan TAI LANCUNG, tapi dengan bentuk masih agak utuh…

TAI KOPET (lebih dikenal dengan KOPET saja)
segerumbul tahi kering yang bergelantungan di bagian anus (bagian bulu gambris untuk tepatnya), tergantung di gambris karena kurang bersih saat cebok….

TAI NYENDER
secara fisik tahi ini terlihat sangat tangguh, bentuknya pulen, padat, berisi, cenderung kekar, dan memiliki bentuk ideal dari sebuah tai. namun sifatnya yang pemalas cenderung membuatnya hanya bersender ditepi lubang WC…
jika anda masih belum bisa membayangkan seperti apa rupanya, coba bayangkan beberapa ekor tai sedang hangout di jacuzzi lubang WC…
istilah ini juga jamak dilontarkan kepada orang – orang yang sangat pemalas…

contoh penggunaan :
“buseeeeet..reba’an aja lo seharian….males beut! kayak TAI NYENDER”
(contoh tersebut hanya satu dari banyak frasa serupa yang bisa dibangun dari rangkaian kata TAI NYENDER)

TAI KOTOK
tahi yang diproduksi golongan unggas (atau golongan aves)….

sekian tadi pengklasifikasian TAI dari saya, semoga notes ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya….

jika ada penjelasan yang dirasa kurang sesuai, mohon dimaafkan…
karena pada dasarnya penulis hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan….

penullis masih membuka kesempatan bagi para pembaca untuk melengkapi klasifikasi ini

*materi klasifikasi ini didapat penulis dari seorang teman yang hobi menenggak solar pada masa mudanya….thnks cuy!
*materi tambahan didapat penulis dari rekan sesama pemerhati TAI yang di tag pada urutan pertama dari notes ini..thnks to you too cuy!

 

tulisan lama ini memancing banyak sekali pendapat, saran serta sanggahan…

untuk menghidupkan kembali hangatnya diskusi tersebut saya sertakan beberapa kutipan komentar rekan-rekan pemerhati Taixonomy lainnya..

selamat berdiskusi!

____________________________________________________________________________________________

Andina Retriani Saya ingin bertanya sedikit dan kemudian mungkin teman-teman seperguruan TAI bisa menambahkan. Kalau BERAK KAPUR, itu kira-kira tai nya apa ya?

Diyan Surya pertanyaan yang menarik dari saudari kontributor, saya akan coba menelaah sedikit…..

BERAK KAPUR adalah kotoran dari seorang guru budiman, beliau yang sudah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan….

setiap hari selama puluhan tahun pengabdiannya, sang guru budiman selalu tersedak debu kapur dari papan tulis, debu kapur yang terakumulasi di dalam saluran pencernaan sang guru tersebutlah yang menyublim dan menjelma menjadi sesosok output bertajuk….
BERAK KAPUR….

semoga penjelasan tadi memuaskan dahaga penanya akan pengetahuan…..

Servo Caesar Prayoga Adinda Dina & kakanda Diyan,

Saya hendak mengklarifikasi sedikit mengenai asal-usul BERAK KAPUR…

Jika anda memperhatikan seekor ayam yang sedang sakit, maka kotoran yang dikeluarkannya akan beda dengan yang biasanya…

jika biasanya tai yang dikeluarkan lebih bersifat liquid atau encer, maka dalam keadaan sakit, tai yang dikeluarkan lebih berupa kapur yang disiram air, berwarna putih, tidak padat dan lebih berupa kumpulan serbuk…

sedangkan BERAK KAPOOR adalah istilah yang digunakan untuk kegiatan pada seorang inspektur india yang bernama Kapoor Sirih, jika sedang buang hajat…

mudah2an infonya bermanfaat ya, cin…

____________________________________________________________________________________________

Joko Phea Wibowo Kuya yang baik hati klo ini maksudnya apa..
BERAK LO SEGEROBAG…
Mohon Pencerahannya…!!!

Diyan Surya pertanyaan yang bagus dari adinda joko dari irigasi…

frasa tersebut maksudnya tiada lain seperti ini…(mohon disimak)…

andaikata seumpama dik joko sewaktu kecil berbuat salah kepada seseorang, mencuri uang dari pengemis buta di perempatan proyek misalnya…
lalu si pengemis mengutuk dik joko “TIDAK BISA BERAK SAMPAI KUTUKAN INI DICABUT”….

belasan tahun kemudian dik joko menyelamatkan seorang gadis manis yang sedang dipalak oleh segerombolan preman gabus…ternyata si gadis adalah cucu dari pengemis buta yang mengutuk dik joko….

atas jasa baik adinda joko, si pengemis buta tersebut mencabut kutukan “TIDAK BISA BERAK SAMPAI KUTUKAN INI DICABUT”…

lalu tanpa tedeng aling-aling tai yang sudah numpuk selama belasan tahun di dalam usus saling berlomba keluar….
BLAAARRRGGHH!!!!!

nah kira – kira itulah makna dari BERAK LO SEGEROBAG…

kurang lebihnya mohon dimaafkan….

piss yo!

____________________________________________________________________________________________

Fajri Pradana Putra what about TOKAI?

apakah ini masih sebangsa TAI SAPIENS?
saya curiga ini merupakan keturunan TAI yang pada jama dahulu kala melakukan perzinahan sesama TAI sejenis, sehingga kedua pasang TAI mereka diusir dan tidak diakui oleh TAI-TAI lainnya.

Untuk meredakan sakit hati dan kekecewaan mereka karena tidak diakui sebagai TAI, akhirnya mereka membentuk koloni baru dan menamai golongan mereka sendiri sebagai TOKAI (Tai OKAY).

Saat ini pamor TOKAI memang sedikit berkurang, tapi mereka tetap eksis nun jauh di sana di relung hati para TAI-TAI yang dulu memusuhi mereka.

Tapi saya percaya, suatu hari akan tercipta perdamaian antara TAI dan TOKAI, karena pada dasarnya mereka semua merupakan Cucu-cucu TAI yang tersesat….

____________________________________________________________________________________________

Servo Caesar Prayoga Ada satu lagi, brader Diyan, yaitu TAI JAM SATU…

Tai ini bersifat keras, crispy kreces-kreces, dan agak rapuh jika terinjak, tekstur yang keras disebabkan karena kandungan airnya sudah mengering oleh terpaan sinar matahari, apalagi matahari tengah hari, bukan matahari department store, jadilah tai ini mendapat sebutan tersebut…

____________________________________________________________________________________________

Andina Retriani Bang Servo dan Bung Fajri, serta mas-mas lainnya.. terima kasih atas kontribusinya. Saya selaku kontributor sangat terharu dan berbangga hati atas partisipasinya hingga dapat menghangatkan ranah diskusi ini. Adapun saya ingin menambahkan jenis TAI lain yaitu TAI MLIPIR.

Pernahkah anda melihat ke dinding lubang WC anda dan melihat beberapa liter tai lembek yang menempel di dindingnya? Itulah TAI MLIPIR.

Menurut saya, TAI MLIPIR ini hampir sama dengan TAI NYENDER. Namun, jaman semena-mena disama ratakan. Karena TAI MLIPIR ini tidak berniat unuk bermalas-malasan seperti TAI NYENDER. Hanya karena teksturnya yang lemah dan mudah ambrol serta lengket, secara tak sengaja TAI MLIPIR ini berdiam di dinding lubang WC anda dan seringnya begitu sulit untuk diusir.

Untuk mengusirnya, janganlah memanggil Ghost Buster karena mereka adalah pengusir hantu, bukan pengusir tai. Sebaiknya anda menyiramnya dengan tekanan air yang kuat atau gunakan teknik yang sedang trend saat ini, accupressure.

____________________________________________________________________________________________

Yoas Nathan saya ingat tai satu lagi… yg pernah ngetren diantara kita…
yakni..
TAI AH!

Fajri Pradana Putra menanggapi komen bung yoas, ada yang perlu sedikit diluruskan. Bahwasanya, tidak pernah ada TAI AH!!
mungkin Bung Yoas perlu mendengar lebih seksama pelafalan (pronounce) yang tepat. sepintas memang terdengar seperti TAI AH, tapi sebenarnya itu adalah TAEAH, karena pengucapannya tersambung tanpa jeda.

Asal muasal TAEAH merupakan bentuk kesepahaman visi TAI-TAI muda yang sangat technology minded. mereka hidup dan tumbuh di era teknologi yang sangat pesat, dimana era informatika dan elektronika semakin memanjakan kehidupan para TAI.

Singkat kata, para TAI muda ini meyakini bahwa dengan memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin, akan membentuk generasi TAI yang maju dan berguna bagi bangsa dan negara. TAE sendiri berasal dari kata TAI yang berasimilasi dengan huruf E (E=electronic), huruf E ini banyak digabungkan dengan kata lain yang berkaitan dengan penerapan teknologi elektronik, seperti e-mail, e-store, dll.Sementara AH menggambarkan bentuk pernyataan sikap

____________________________________________________________________________________________

Andina Retriani Teman-teman masih ingat frasa “MONYET KAU TAHIK!”, apakah artinya?

 

Servo Caesar Prayoga Saudari Dina, saya hendak menjawab pertanyaan saudari mengenai asal-usul frasa “Monyet Kau Tahik”,Begini…

Waktu saya duduk di bangku SMU, saya mempunyai seorang guru Geografi bernama pak Lasian Sidauruk..beliau memiliki sebuah peraturan ajar yang agak unik dan tidak tertulis, yaitu jika beliau sedang berkelakar,kami harus ikut tertawa, jika kami tidak tertawa, maka beliau akan senewen.

Suatu hari pada saat beliau sedang mengajar, tiba-tiba terdengar tawa dari bangku teman2, padahal beliau sedang tidak berkelakar.sontak beliau pun murka, lalu mengeluarkan kata2 mutiara tersebut,”MONYET KAU TAIIK!!!” (harap diperhatikan pengucapannya, bukan tahik, tetapi taiikk, dengan nada diayun seperti logat batak, dan ‘k’-nya tidak dibaca, seperti pengucapan ‘Tai’ yang biasa.

Lalu, sekonyong2 dari mulut seorang murid (yang sampe sekarang masih misterius), terdengar celetukan,”jadi kita ini MONYET apa TAI, pak?”. Well, pak Sidauruk adalah seorang penyandang sabuk Hitam Dan 3 dalam Karate,jadi…

____________________________________________________________________________________________

Haryo S.Gum Halo saya adalah seorang teman penulis yang hobi menenggak solar pada masa mudanya….*

Saya mengucapkan terima kasih pada penulis dan rekan-rekan kontributor yang memiliki ketertarikan mendalam seputar ilmu klasifikasi soal tai ini. Ilmu ini disebut Taixonomy, yang memudahkan kita menelaah bermacam tai dari berbagai sisi. Mulai dari sisi susunan senyawa kimia, kajian budaya, hingga kontemplasi filosofisnya. 

Di Indonesia sendiri ilmu ini tergolong masih baru. Mudah-mudahan banyak generasi muda Indonesia yang bisa mengharumkan nama bangsa melalui ilmu ini dikancah International.

 

Haryo S.Gum O’iya saya ingin mengenalkan satu jenis tai lagi.. nama klasifikasinya TELEK BEJRET dari kingdom Taiae, filum Taitabrata, kelas Taipoda, ordo Tai Ledig, dan family Taihangatkuku.

Klasifikasi ini saya lihat dari stiker di kaca belakang angkot M11 jurusan Tanah Abang-Meruya. Stiker ini bertuliskan Telek Bejret. Ketika saya tanyakan kenapa memasang stiker dengan kata-kata seperti itu kepada sang sopir, padahal angkot lain umunya bertuliskan “Jablay”, “Guna-guna istri muda”, atau “doa ibu”. Sang sopirpun menjawab bahwa Telek Bejret adalah tai yang kelindes ban mobil. Itu adalah analogi bagi angkot lain yang kalah cepat kelibas mobilnya, sehingga harapannya semua penumpang bisa diraih sang sopir. 

Wow, sungguh mengesankan. Maka dari itu telek bejret saya masukkan sebagai spesies baru dari keluarga tai-taian. 

Ayo amati fenomena tai lainnya.. dan ramaikan diskusi ini..

____________________________________________________________________________________________

Servo Caesar Prayoga Bung ‘Solar’ dan bung Diyan, saya hendak memberi masukan lagi soal jenis-jenis tai yang lain…harap dicatat, jenis tai yang ini agak unik, karena sebutannya saja yang tai, akan tetapi dia bukan termasuk jenis tai…tai yang saya maksud disini adalah ‘TAI MATJAN’….

Tai macan adalah sebutan yang dipakai untuk mengganti kata ‘Sperma’/ ‘Peju’/’Air Mani’…disebut tai macan karena metafora didalamnya…Dikatakan bahwa macan/harimau adalah salah satu makhluk lambang kejantanan atau kegagahan, dimana mereka bisa seenaknya menebar benih pada semua betina, nah analogi tersebut yang digunakan pada frasa ‘Tai Macan’ ini…

contoh penggunaan pada kalimat sehari:

-Meks : “Oi, Cuks…besok lo ada acara gak?”
-Cuks : “Wah, Meks, besok gue janjian sama wece gue, mau buang Tai Macan euy, udah seminggu neh gak ngapa-ngapain…”

bersambung…

Servo Caesar Prayoga sambungan…

Tai Macan bisa diganti dengan frasa lain, sesuai kebutuhan dan lingkungan tempat kita berada..Jika kita sedang berada pada lingkungan anak motor/bengkel, kita bisa berucap,”Coy, gue mau ‘Ganti Oli’ dulu neh, cabs duls yak..”

Jika kita sedang berada didalam lingkungan yang lain, let’s say, lingkungan dengan tata krama yang dirasa tinggi, kita bisa mengganti frasa tersebut dengan kalimat yang lebih halus, seperti, “Bos, gue izin dulu ya, mau “Nyuci Keris” neh, udah gak tahan..” Si Bos akan mengerti tanpa harus tersungging karena anak buahnya berkata kurang sopan…

mudah2an infonya bermanfaat ya, Cin… xp

____________________________________________________________________________________________

Haryo S.Gum Terima kasih Sus Andhyne Manish. Sebenarnya tidak ada yang jumawa dalam taixonomy. Bung Diyanlah yang sangat curious untuk memperkenalkan berbagai macam tai kepada kita. Obrolan mengenai tai ini dimulai ketika kami masih sama-sama menenggak solar. Di waktu mudanya Bung Diyan memang sudah menampakkan kejeniusan dalam menganalisa berbagai macam tai. Begitu juga dengan Sus Andhyne. Saya dengar dari Bung Diyan bahwa Anda juga aktif memperhatikan fenomena tai. Salut untuk Anda dan rekan-rekan kontributor lainnya.

 

Haryo S.Gum Mungkin rekan-rekan sekalian pernah mengalami fenomena TAI CEPIRIT. Tai cepirit adalah sekelumit tai yang keluar secara tiba-tiba, karena lubang anus tak mampu mengempis untuk menahan tai dibelakangnya yang mengantri dalam volume besar. 

Tai cepirit umum ditemukan pada celana dalam orang-orang yang sedang mencret. Biasanya berupa cipratan berbentuk garis. Bentuk garis ini disebabkan oleh belahan pantat. 

Anda bisa menyaksikan fenomena tai cepirit secara live dari celana dalam yang dibuang orang di WC umum. Biasanya di WC sekolah, karena si empunya malu kalo ketahuan abis be’ol terus cepirit.

You can get your own cepirit. It’s enjoyable and fun. Get the spirit with cepirit!

____________________________________________________________________________________________

Rara Mbol terima kasih sudah di-tag 🙂
sekarang saya jadi tau kalo mamalia jenis monyet juga termasuk keluarga tai..
dari pembahasan yang cukup serius ini saya jadi tahu di Indonesia banyak yang ahli soal tai.. bagaimana dengan mereka yang di Thailand? apakah lebih handal dari kita semua? secara mereka mengklaim dirinya sebagai Tanah Tai?? hmm..

Diyan Surya “hmmm” juga….
sebuah pertanyaan yang brilian dari saudari rara mbol (yang dari namanya saja sudah bisa diketahui bahwa dia memendam bakat dalam dunia pertaian / taixonomy)…

Sekedar koreksi, yang benar itu adalah THAILAND…..
THAI adalah dialek lokal bahasa siam (bukan SIYAM-mungkin saudari andhyne lebih mengerti pengertian SIYAM) yang artinya kurang lebih sama dengan TAI dalam bahasa indonesia….

merujuk pada pengetahuan saya yang tidak seberapa ini, nama THAILAND memang memiliki korelasi kuat dengan dunia taixonomy….

THAI merujuk pada bentang alam dan kondisi geografis Thailand, jika dilihat dalam gambaran besarnya letak Thailand memang berada di bagian ‘rear end’ dari benua Asia….

bentang geografis negara Thailand jika diperhatikan secara seksama berbentuk seperti TAI yang menggelantung dipantat benua Asia…(walaupun pada bagian ujung TAI IMAJINER tersebut sudah termasuk wilayah Negara Malaysia)

so, should we claim PaTAYa as our new Mecca?

____________________________________________________________________________________________

Andina Retriani Sudah satu lagi anggota Taixologist yang bergabung di forum ini. Kali ini saya ingin berbagi ilmu pengetahuan saya mengenai 1 jenis tai lagi, yaitu TAI PIN SAN.

Dari bentuk dan teksturnya, TAI PIN SAN berwarna coklat kekuningan. Teksturnya lebih menyerupai serbuk. Sebelum mengetahui klasifikasinya di notes saya, ada baiknya kita membahas sedikit mengenai asal-usul Tai ini dan penamaannya.

Di kalangan Tai-Tai muda jaman sekarang, mungkin TAI PIN SAN terkenal sebagai pembelot/ pengkhianat. Karena, justru dikala manusia ingin membuang/ mengeluarkan fesesnya, TAI PIN SAN justru menentang hal itu. Dengan semangat juang tinggi, TAI PIN SAN malah memblokir jalan para tai untuk meluncur mulus keluar lubang dubur.

Sejak saat itulah, TAI PIN SAN diusir dari komunitasnya. Saat ini pun kita jarang menemukan TAI PIN SAN. Konon katanya TAI PIN SAN ini pergi ke negeri seberang. Namun entah siapa yang tahu kebenarannya.

—TO BE CONTINUED—

Andina Retriani –CONTINUE–

Nah, karena Bung Diyan dan Rara Mbol sempat menggelontorkan Thailand di forum ini, saya jadi berpikir untuk melakukan perjalanan ke Thailand untuk meneliti keberadaan TAI PIN SAN. Mungkinkan dia berada di sana? 

Dan, untuk klasifikasi TAI PIN SAN, silakan kunjungi notes saya di:

http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=86289028862

____________________________________________________________________________________________

Diyan Surya saya selaku pemilik notes merasa terharu sekaligus bangga, atas perhatian yang sudah rekan-rekan berikan terhadap diskusi kecil kita ini….

dari diskusi kita ini kita sudah mendapatkan sekitar 20 an klasifikasi family tai-taian….

saya masih membuka kesempatan bagi anda di luar sana, untuk terus meramaikan diskusi ini, agar wawasan kita terhadap kingdom tai semakin bertambah….

dan dengan tujuan akhir me – mainstream kan taixonomy…

akhirul kata, majukan terus dunia ilmu pengetahuan Indonesia!!!

Taka Bonerate – a far far away (atol) islands

Kepulauan Taka bonerate, terdengar eksotis bukan ? kayaknya lokasinya di pelosok manaaa gitu 😀  Diving destination ini emang kalah pamor sama raja ampat, atau tetangganya Wakatobi. Tapi tempat ini ga kalah sama dua saudara tua nya itu.

Fyi taka bonerate ada di sulawesi selatan, bagian paling selatan. (yup it’s a land down under 😀 ) berbatasan dengan provinsi Nusa Tenggara Barat (atau NTT ya ? maap geografi saya jelek )

Kepulauan ini adalah gugus karang atol terbesar ketiga di dunia, setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Luasnya 220.000 hektar !!! (this exclamation mark means this is seriously a super duper vast area)

Kebetulan kantor gue tersayang ada project sama taman nasional laut taka bonerate, jadilah gue berangkat gratis tis tis 😀 Jaraknya emang jauh banget, Cuma mereka yang punya tekad dan ambisi (serta uang ) cukup yang bisa sampai ke sini. Atau yang dapet gratisan kayak gue.

Tapi percaya ama gue, jarak sejauh itu nggak ada artinya sama apa yang bakal elo dapet di taka bonerate. Remote isolated island, with white sandy beach, a small lagoon (biar kotor tetep aja lagoon), a proper dive operator and dozens of wonderful dive spot.

So here we go !

Activities

Selayar

Sebelum sampai ke taka bonerate, kita harus mampir dulu di pulau selayar. Sambil menunggu jadwal penyebrangan ke Tak Bon kita bisa jalan – jalan di Selayar. ada beberapa spot yang bisa elo datangin, mulai dari wisata sejarah (jangkar dan nekara raksasa) sampai nyobain diving.

Gue diving di spot yang namanya Spagetti reef, sumpah ga ada spagetti spagettinya acan. Kenapa dinamain spagetti, karena ada orang bule yang punya dive operator hobby banget diving di spot ini, dan dia hobi makan spagetti. Udah aja gitu dinamain spagetti reef (WTF?!)

Over all sih biasa aja si spagetti reef ini, ga tahu spot lainnya.

Yang pengen nyobain blubub blubub di selayar bisa akses website http://www.selayarislandresort.com

Diving       

Taka Bonerate punya lebih dari 20 dive spot. Dive spot itu tersebar mulai dari halaman depan pulau Tinabo (tempat menginap kita) sampai ke ujung selatan komplek karang atol ini.

Variasi kontur dasar lautnya juga beragam banget, mulai dari slope sampai wall yang ga keliatan dasarnya (jujur gue nggak ke spot itu, jadi ga bisa cerita banyak).

Selama diving gue ngeliat beberapa mahkluk laut yang lumayan seru buat ditongkrongin. Ada cuttle fish a.k.a sotong di e’bell orange (kalau beruntung elo bisa liat mereka mating / kawin / ewi ewi), crocodille fish yang pendiam dan cocok jadi objek foto (sayang agak buruk rupa :p ), barakuda solitary, moray eel, eagle ray, bat fish.

(for more info you can acces http://www.tinaboisland.com )

Sleep

Waktu nginep di selayar gue nginep di homestay yang ada disamping café “Tempat Biasa”.  Tempat menginapnya biasa aja, cenderung jelek. Skala 1 – 10 dapet nilai 6 lah, WC nya jongkok (seinget gue). Tempat tidurnya kasur yang udah keras, tapi tempat makannya seru (I’ll tell you in the Eat part).

Selain yang diatas juga ada hotel atau penginapan lain yang bisa di tinggali di Selayar.

Penginapan di Selayar :

Hotel Shafira (melati) tarif 250.000/kamar Telp. 0414-22766-8.

Hotel Selayar Beach (melati) harga sewa Rp. 200.000 – 250.000/ kamar. Telp. 0414-21617.

Wisma PKK Tanadoang, 250.000/kamar. Semuanya termasuk sarapan.

(source: http://selayaronline.com/?m=bWVudT1jb250ZW50JmdpZD0xMTk4OTM2ODEwJmFpZD0xMjY1OTUxOTU4JnBhZ2U9MQ==)

Di tinabo Cuma ada satu resort, ya tinabo island resort namanya. Overall cukup nyaman kok, tempat tidur springbed, ada tiga kamar. Dua kamar dengan tempat tidur kingsize, serta satu kamar ukuran standar. Kalau dibutuhkan bisa minta ekstra bed yang juga springbed.

Kalau elo ke tinabo di saat bulan penuh (sekitar tanggal 15 an atau tengah bulan) coba keluar resort dan jalan – jalan di pinggir pantai di jam – jam 2 – 3 malam, bulan kayak matahari terangnya.

Tips untuk tidur nyenyak : bawa lotion anti nyamuk. Waktu itu sih gue nggak ada nyamuk, but there’s no such thing as over prepared.

 

Eat

Waktu gue di Selayar, gue makan di cafe “tempat biasa” (regular place). Makanan yang gue rekomendasiin adalah mie wortel, makanan sehat yang terbuat dari bahan dasar wortel tentunya.  Porsi cukup besar dan kalau elo suka pedas bisa dimakan sama cabe rawit merah. We called it devil’s chilli, karena sebuah cabe berukuran sekitar 2 cm bisa untuk bikin pedas semangkuk besar mie wortel.  Selain mie wortel ada menu – menu lain yang bisa dicoba seperti pisang epe (plain fried banana dipped in chilli) dan menu spesial harian yang berganti – ganti setiap hari.  FYI menu makanan disini dinamakan dengan istilah – istilah diving, seperti safety stop coffee and… (you can fill the blank yourself after you went to Selayar, my puny brain has failed me one more time)

Oh iya, café “tempat biasa” juga punya fasilitas wifi internet yang lumayan kenceng. Paling nggak upload an twit pic ato foto facebook bisa bikin iri temen – temen lo di rumah.

Selama di Tinabo fasilitas makan sepaket sama paket liburannya, makanannya cukup bersahabat kok buat orang indonesia. Mungkin mereka punya menu yang berbeda buat orang bule.  Tips buat urusan perut, gue saranin buat bawa snack atau makanan lain yang elo suka. Kenapa gue saranin begitu, karena pulau tinabo ini bener – bener in the middle of no where. Warung terdekat jaraknya 45 menit dengan perahu motor tempel.

Perizinan

Kawasan gugus atol takabonerate adalah kawasan taman nasional, untuk itu perlu izin dari balai taman nasional. Beberapa surat – surat keterangan identitas diri perlu disiapkan, seperti KTP / SIM atau paspor untuk warga asing.

Biaya registrasi masuk juga perlu disiapkan :

! Pengunjung  domestik          : Rp.2.500    !
! Pengunjung mancanegara     : Rp.20.000   !
! Photography (domestik)        : Rp.5000     !
! Photography (mancanegara)  : Rp.50.000   !
! Menyelam (domestik)            : Rp.50.000   !
! Menyelam (mancanegara)      : Rp.75.000   !                  (sumber : www.tntakabonerate.com)

(seems not fair, but life’s unfair. Face it mate ! 😀 )

Untuk perizinan bisa menghubungi kantor Balai Taman Nasional Laut Taka Bonerate.

Jl. S. Parman No. 40 Benteng, Selayar. Contact person: Nadzrun Jamil (081210011007) Asri (08114205360) Hendra Mustajab (081241948948)

How to get there

Starting point untuk menuju kepulauan Taka Bonerate adalah kota Benteng di Pulau Selayar. dari Makassar bisa ditempuh melalui jalan darat dengan bus menuju kota Benteng di pulau selayar, lama perjalanan sekitar 10 jam (sudah termasuk penyebrangan ferry di Tj. Bira).

[no telp PO bus : Bus Aneka (AC), Telp. 0411-5048232 (Makassar) atau 0414-22489 (Selayar), Perwakilan bus Sumber Mas Murni (AC), Telp. 0411- (Makassar) dan 0414-21154 (Selayar). Harga Tiket Rp. 100.000/orang ]

Buat elo yang nggak pengen tua di jalan, alternatif lainnya adalah lewat penerbangan perintis. Sabang Merauke Air Charter (SMAC) siap melayani penerbangan dari Bandara Sultan Hasanudin ke Bandara Aroepalla di Selayar.

[kontak SMAC : Jl. Poros Bandara Sultan Hasanuddin Mandai, telp (0411) 550664]

Tiket penerbangan seharga 200 ribu + airport tax 30 rb. Batas bagasi per orang adalah 15 kg, jadi pinter – pinter itung berat bawaan deh. FYI berat barang bawaan ditimbang bareng sama pembawanya (yup that’s you) jadi kalau mau mulai diet bisa dari sekarang :p

Penerbangan SMAC ada dua seminggu (selasa dan jumat pagi), tapi jadwalnya amat sangat fleksibel a.k.a suka – suka penyelenggaranya aja. Note !! jangan bikin itinerary yang mepet buat terbang transit, karena resiko ketinggalan penerbangan sangat – sangat besar. Luangkan waktu yang cukup lama di bandara, atau ke Makassar sekalian biar nggak deg degan soal waktu transit. Perjalanan dilanjutkan dengan kapal transportasi umum menuju Pulau Rajuni (ongkos di tahun 2010 sekitar Rp. 75.000), dari Pulau Rajuni bisa menyewa kapal nelayan untuk bisa sampai ke Pulau Tinabo (jujur gue nggak tahu berapa biayanya 😀 ).

Atau kalau mau lebih terkoordinir bisa datang ke kantor Taman Nasional Takabonerate di Selayar, mereka biasanya bisa nebengin tamu yang mau ke Tinabo bareng sama pergantian shift penjaga TN Takabonerate.

 

so… that’s all folks!

before you leave here’s some island looveee..

ciao!